terlahir diantara orang orang hebat
terlahir diantara mereka
kadang terasa sulit dan berat
walaupun aku masih bisa menikmati jadi adek dari seorang brother yang begitu terkenal di clubnya, jadi ketua osis semasa sekolahnya dan selalu jadi sang juara saat musim sekolah akan berakhir dengan liburan, liburan yang kadang sangat menyenangkan dan bahkan terkadang saat aku harus ditinggal pergi lantaran tidak mendapat juara kelas.
dan jadi kakak untuk adek yang begitu manis dan cantik, berkulit bersih bermata sipit wajah oriental yang menawan dengan sedikit tailalat di kelopak mata, tinggi dan berbadang menggemaskan. yah. santika secantik orangnya. smart girl.. adek juga orang hebat penerus generasi papa dan mama. dari kecil sudah terlihat pintarnya. aku jadi terkenang saat adek masih blom cukup usia untuk mengenal angka dan hurus dan mewarnai.. namun dia sudah mampu melebihi teman temannya.
mereka berdua sama sama telah mampu menoreh bintang dari kecil, terhitung sejak taman kanak kanak mereka telah ikut ajang lomba lomba. mereka pemberani mereka hebat. sering kali itu yang dieluhkan mama dan papa. mereka sama sama berprestasi dari kecil. nyaris setiap prestasi yang mereka peroleh hampir sama disetiap usianya.
contohnya saja abang sudah pernah menjuarai hafalan ayat ayat pendek alquran sejak taman kanak kanak, beranjak kemasa pertama sekolah dasar adek ikut lomba dai cilik di sekolahnya dan di kabupaten kami tinggal, abang juga begitu, seterusnya saat adek berhasil menjuarai pasiad matematika di tingkat kabupaten, abang juga pernah menoreh prestasi yang hampir sama, saat pengumuman nilai kelulusan nilai ujian sekolah dasar diumumkan mereka juga menoreh prestasi yang sama.
tapi itu tidak berlaku untuk aku. semua prestasi itu seolah olah telah diborong mereka semua.
bagaimana aku bisa menoreh prestasi saat taman kanak kanak, aku tidak menikmati tingkat pendidikan itu sepenuhnya. aku hanya berkesempatan sekolah taman kanak kanak 3 bulan, tepatnya hanya 1 caturwulan berhubung mama pindah tugas. saat adaptasi ku dengan lingkungan baru sangat susah. aku dulu cenderung minder dan malu kalau interaksi dan mama ku sepertinya tidak tau itu.
aku memang sangat jauh berbeda dengan saudaraku yang lainnya. antara adek dan abang. kulitku yang tidak sebersih mereka badanku yang tidak sekekar mereka. mataku pun tidak sipit. bahkan foto kecilku sangat jauh berbeda. lantas karna terlihat begitu kontras itulah aku tidak membiarkan foto masa kecilku tidak ku perbolehkan dipajang didinding rumah baru kami waktu itu.
sampai saat ini pun rasa itu masih besar menghantuiku. rasa minder saat kami harus menghadiri acara keluarga besar bersama masih kental untuk ku pikirkan.
sejak kecil aku kerap kali mendapat gelar anak dapek yang maksudnya anak dapat. yang paling aku ingat saat aku dibilang anak yang ditemukan di rumpun batauang atau rumpun bambu. yah begitu lah sering kali aku mendapati panggilan panggilan kenamaanku, tidak hanya itu aku juga dipanggil "kaliang" ingin memberontak ingin sekali blogger. aku bukan kalian aku bukan anak dapek aku rika armelia.
dengan panggilan seperti itu besar harapanku akan mendapatkan pembelaan dari mama dari papa dari abang dan tidak mungkin juga aku mengharap pembelaan dari adek saat itu karena adek hadir setelah 7 tahun kelahiranku. tapi aku tidak mendapati pembelaan se[erti itu dari mama dari papa. saat itu aku hanya berusaha mendramatisir keadaan, dengan melakukan pembelaan cuma cuma dan berharap mereka segera pergi dari hadapanku.
blogger, tak satupun yang mengerti betapa buruknya efek itu sampai saat ini. hari ini cermin dari hari hari sebelumnya.
benar blogger, aku sampai hari ini tidak begitu bernyali untuk tampil manis dihadapan siapapun. yang ada rasa minder berlebihan. aku sering diam dan berlalu dihadapan tamu tamu mama dan papa bahkan dari teman teman.
teguran dari mama pun akan aku berikan alasan yang sama jika aku tidak menegur dan menyapa dengan ramah tamunya. "suatu saat akan kenal karena terbiasa"
sangat susah menghilangkan rasa tidak percaya diri, bukan karena aku tidak punya rasa syukur terhadap penciptaan rupa aku hari ini, tapi aku takut di bilang tidak ada kemiripan sama sekali. dengan abang adek dan kedua orangtuaku, lalu aku anak siapa? maka dengan lugasnya mereka bilang lagi aku "anak dapek".
sungguh aku minder dengan kata kata itu. bahkan aku akan menciut dan memilih bernajak menjauh dari kumpulan mereka. terkadang berusaha mengalihkan perasaan dengan bermain dengan apa yang aku temui di dekat tanganku.
entah mengapa aku harus mendapati seperti ini.
aku mau memberontak. kepada siapa aku akan memberontak? kepada papa dan mama atau kepada saudara mereka? dosakah yang ku lakukan jika aku menjauh dan berlalu karna hanya memikirkan pertimbangan sebaiknya aku tidak mendengar kata kata itu?
aku benar benar ingin menyembunyikan perasaan terluka saat mendapati gelar itu kembali mencuat kembali menjadi milikku.
andai kalian tau betapa sakitnya aku, betapa sedih nya aku denga keadaan itu betapa marahnya aku betapa bencinya aku. andai kalian rasakan jadi aku andai kalian tau bagaimana dengan perasaan.
mungkin aku tidak akan tumbuh dengan mental seperti ini.
mental pemarah mental egois mental pemberontak mungkin saja tidak jadi milikku. sering kali aku membuat ulah, agar semua orang tau kalau aku juga ada disini, aku ada di tempat ini untuk diberikan perhatian seperti abang dan adek
bukan aku tidak bersyukur punya orangtua yang super. bukannya aku tidak bersyukur memiliki semuanya itu. namun aku hanya ingin merasakan sama seperti abang dan adek saat mendapat pembelaan. mendapatkan pelakuan yang sesuai dengan harapan.
aku begitu yakin dengan pembangunan mental itu sejak dini. penanaman rasa percaya diri itu harus dari dulu.
sungguh aku sangat benci dengan keadaan yang berlebihan terhadapku.
saat gigi aku tidak serapi gigi saudaraku. itu yang melontarkan dan mencaci keadaanku kakak sepupuku sendiri, masih ingat jelas pembicaraannya. dan waktu itu aku bersumpah akan melihat anaknya juga sepertiku, 10 tahun berlalu. sekarang dia punya anak yang lebih buruk dari bentuk gigiku.
aku tidak bisa memahami mengapa harus mereka yang erat tali persaudaraannya denganku yang mencaci bukannya tugas saudara saling melindungi dan meluruskan setiap sikap yang salah. berangkat dari saat itu juga aku mulai meninggalkan rasa bersaudara dengan siapapun.
kesedihanku tidak pernah dimiliki siapapun dsini tidak satupun yang aku rasa ingin mengurangi rasa beban ini. ketika berharap diantara mereka merangkul aku dalam kesedihan. itu hanya harapan kosong saja.
mana ada persaudaraan..
mana?
ketika aku tidak dapat menjuarai kejuaraan olimpiade, dua saudaraku mampu melakukan itu. jelas perhatian tidak akan menyita keberadaanku.
jelas sekali
ketika aku harus bekerja sementara saudaraku hanya berleha leha dirumah, teringat ketika itu bulan ramadhan dan itu hari pertama puasa, aku puasa. dan dengan tugas menjemur padi di rice milling milik papa. sementara mereka tidak satupun menghampiriku menanyakan keadaanku pada puasa pertama dengan tugas bukan untuk cewek. aku harus menjemur gabah yang hampi 1ton basah.
sesampainya dirumah sudah jam 6 sore tepatnya mau bedug berbuka puasa haru pertama puasa ramadhan itu. adek dan abang sudah selesai dengan minumnya masing2 yang aku rasa begitu nikmat untuk pelepas dahaga setelah berpuasa. itu buatan mama. aku tidak mendapatkan perlakuan itu.perlakuan dbuatkan air minum untuk berbuka. bukannya aku bekerja seharian dibawah ganasnya sengatan matahari yang tentunya menguntunkan demi suksesnya menjemur gabah. aku tidak ditanyai mau minum apa. sadar sekali aku, itu memang bukan baik untukku. sebagai seorang cewek yang seharusnya menyediakan santapan berbuka dimeja makan. karna keadaan yang membuat ku tidak ikut membuat pabukoan. aku baru pulang dari heller 15 menity sebelum berbuka, bagaiman mau ikut. rasa lelah tak terkalahkan menghadangku di sore itu.
sangat sedih..
akhirnya aku angkat bicara, angkat bicara tentang perasaan yang telah lama membatin dan menyiksaku. harus aku pertanyakan namun aku masih diliputi rasa takut akan dosa kepada orangtua. aku takut dicap sebgai anak durhaka.
akhirnya malam itu berbuka jam 9 malan seluruh penduduk rumah. karna aku terlalu mengikuti emosi. membenci keadaan.
keadaan dimana aku harus dianggap jadi wanita kuat yang fleksibel yang bisa apa saja.
taukah mereka sesungguhnya dengan keadaan fisik dan psikis ku?
mam apa yang salah denganku? salahkah aku dengan keadaan fisik terlahir mirip dengan mama papa dan kedua saudaraku?
salahkah aku?
aku begitu ambisius untuk berbakti kepada mereka. dengan melaksanakan semua yang ada dirumah. pekerjaan apapun akan ku lakukan.
agar aku bisa dianggap keberadaanku. aku ingin dirasa perlu dirumah sangat ingin. makanya aku selalu berusaha untuk bisa melakukan pekerjaan pekerjaan dirumah, padahal sering kali rasa sakit menghampiri jika sudah bekerja agak berlebih, dan itu aku tahan.
biarlah aku menahan rasa sakit fisik daripada merasakan beratnya beban saat aku tidak diperhitungkan untuk kemiripan dan prestasi.
mama papa aku ingin merasakan seperti mereka seperti abangku seperti adekku.
saat apa yang dikehendaki mereka begitu cepat terkabulkan ketika mereka tidak dicaci ketika mereka tidak dicela.
saat mereka menerima pujian.
andai mereka tau..
aku ingin berteriak kencang sekencang kencangnya agar mereka tau ini aku
aku dengan kekuranganku.
dan aku tidak begitu tau bagaimana bisa menghapus sapaan itu...
sapaan yang ku benci.
aku bukan cacian untuk mereka.
sakit teramat untuk mendengarkan apa yang kalian koarkan..
harus bagaimana agar kalian mengerti akau adalah saudara mereka anak mama papa.
aku terlalu sedih hari ini untuk mengenang semua itu.
No comments:
Post a Comment